Pelarangan Film “Balibo Five” Digugat ke PTUN




VIVAnews – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, Rabu 3 Maret 2010 akan menggugat surat Lembaga Sensor Film Nomor 1800/LSF/XII/2009 yang melarang film “Balibo Five” melalui Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta. Gugatan ini akan diwakili oleh tim kuasa hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers.


Alasan gugatan ini adalah keresahan jurnalis-jurnalis anggota AJI Jakarta yang merasa hak atas informasinya terbelenggu oleh sensor total atas film ini. Pelarangan atas film ini pada 3 Desember 2009 lalu, membuat timbul kesan seakan-akan negara berusaha mengubur informasi mengenai peristiwa pembunuhan atas lima jurnalis asal Australia pada 1975 silam ini.

Sebelum gugatan ini, AJI telah menyelenggarakan pemutaran-pemutaran film Balibo di berbagai kota, sebagai bentuk perlawanan atas usaha negara menutupi peristiwa ini. Tentu saja, tidak ada pretensi bahwa informasi yang disajikan dalam film karya sutradara Australia, Robert Connolly ini seratus persen sahih.

“Namun, kami beranggapan pemutaran film ini penting untuk membuka diskusi tentang pembunuhan kelima jurnalis Australia itu, serta mendesak semua pihak yang berkepentingan untuk mengungkap tuntas peristiwa ini,” ujar AJI dalam rilis yang diterima VIVAnews, Rabu 3 Maret 2010.

Peristiwa Balibo sendiri adalah kisah gelap dalam sejarah invasi Indonesia ke Timor Leste. Berbagai kesaksian dan dokumen menunjukkan keterlibatan pasukan Indonesia dan milisi Timor Leste pro-Indonesia dalam pembunuhan lima jurnalis Australia: Gary Cunningham, Malcolm Rennie, Greg Shackleton, Tony Stewart, dan Brian Peters.

Gugatan ini menjadi penting, terlebih menjelang kunjungan kerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Australia, 8 Maret depan. Masih gelapnya kasus pembunuhan ini adalah duri dalam daging dalam hubungan Indonesia-Australia.

Menurut AJI, iklim kebebasan pers yang saat ini dinikmati publik Indonesia harus terus dirawat dan dijaga. Salahsatu cara menjaga kebebasan ini adalah dengan memastikan bahwa tidak ada kasus pembunuhan jurnalis yang penyelesaiannya tidak jelas.

“Kita sudah punya preseden buruk dalam kasus pembunuhan wartawan Harian Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin, di Yogyakarta 1996 silam. AJI Jakarta dan LBH Pers tidak ingin preseden buruk ini terus terulang.”

• VIVAnews

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: