Majelis Kehormatan Hukum Dua Hakim


Selasa, 15 Desember 2009 | 09:54 WIB

Jakarta, kompas – Dua hakim tingkat pertama, yang bertugas di pengadilan negeri, Ari Siswanto dan Aldhytia Kurniyansa Sudewa, dibebastugaskan sebagai hakim atau dinonpalukan masing-masing selama dua tahun dan 20 bulan oleh Majelis Kehormatan Hakim. Keduanya terbukti bersalah melanggar kode etik perilaku hakim dalam kaitannya dengan dugaan permintaan sejumlah uang kepada pihak-pihak yang beperkara.

Putusan itu dijatuhkan dalam sidang terbuka Majelis Kehormatan Hakim (MKH), Senin (14/12) di Jakarta. MKH terdiri dari tujuh anggota, empat dari unsur Komisi Yudisial (KY), dan tiga unsur dari unsur Mahkamah Agung (MA). Mereka adalah Artidjo Alkostar, Rehngena Purba, dan Abbas Said, ketiganya adalah hakim agung serta Chatamarrasjid, Zaenal Arifin, Soekotjo Soeprapto, dan Mustafa Abdullah yang berasal dari KY.

Ari Siswanto, hakim pada Pengadilan Negeri Rantauprapat, Sumatera Utara, dilaporkan oleh korban dan kuasa hukum korban telah meminta uang Rp 300 juta terkait kasus pembunuhan. Ari diduga meminta uang agar pelaku dapat dihukum seumur hidup. Aldhytia Kurniyansa Sudewa, hakim PN Muara Bulian, Jambi, dilaporkan dalam kasus serupa.

Terkait dengan laporan itu, MKH menyatakan keduanya bersalah melanggar Surat Keputusan Bersama MA dan KY tentang kode etik perilaku hakim.

MKH juga menyatakan, Ari Siswanto melanggar Pasal 20 Ayat 1 huruf (a) dan (b) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU Peradilan Umum.

Dalam persidangan itu, dua anggota Majelis Kehormatan menyatakan beda pendapat (dissenting opinion). Artidjo Alkostar dan Zaenal Arifin berpendapat, keduanya layak mendapatkan hukuman pemberhentian dengan tidak hormat.

Majelis Kehormatan juga menjatuhkan hukuman mencabut tunjangan khusus kinerja (remunerasi) selama dua tahun untuk Ari Siswanto dan 20 bulan untuk Aldhytia. Keduanya juga diturunkan kepangkatannya selama setahun.

Ari selanjutnya dikaryakan sebagai hakim nonyustisial di Pengadilan Tinggi (PT) Nanggroe Aceh Darussalam. Sementara Aldhytia dikaryakan di PT Nusa Tenggara Timur di Kupang.

Dalam pembelaannya, Ari membantah tidak pernah menerima uang sepeser pun atau fasilitas yang dituduhkan kepadanya, baik dari korban maupun kuasa hukum korban. Dalam pembelaan tertulisnya, Ari juga mengatakan bahwa peristiwa itu berawal dari ketidakpuasan keluarga korban atas vonis bebas yang dijatuhkan oleh majelis lain dalam perkara yang sama.

Mereka mencoba mendekati dirinya yang kebetulan sebagai ketua majelis dalam perkara tersebut. Mereka memberikan iming-iming uang agar terdakwa divonis seumur hidup.

Secara terpisah, Ketua KY Busyro Muqoddas dalam diskusi di KY, Jakarta, Senin, mengakui peningkatan kualitas hakim tidak dapat ditunda-tunda lagi. Peningkatan itu antara lain lewat pendidikan yang lebih berkualitas. (ana)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: