DR. SUPANDI, SH, M.Hum; ” HAKIM ADALAH JABATAN TERHORMAT”!


Meskipun sering dinafikan keberadaannya oleh sebagian pihak, namun sesungguhnya harus disadari secara sungguh-sungguh bahwa Hakim adalah sebuah Jabatan terhormat dan Mulia. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tekhnis  Peradilan Mahkamah Agung RI, DR. Supandi, SH, M. Hum, di hadapan para Cakim TUN angkatan IV di Megamendung, 15/07.

Menurut DR. Supandi,  seseorang ketika telah menjadi sebagai Hakim, maka dia harus sadar bahwa dia sedang menduduki jabatan yang bukan sembarangan jabatan. ” Hakim ini adalah jabatan Pengadil. Itu artinya, segenap bangsa Indonesia (Termasuk rakyat pencari keadilan),  manakala rakyat Indonesia ada yang tersangkut dalam sebuah perkara, maka kalau diserahkan kepada saudara sebagai Hakim, maka hati rakyat akan menjadi tenteram.  Karena mereka yakin, anda adalah Pengadil, yakni sosok yang mampu menyelesaikan perkara itu secara baik dan sesuai dengan keadilan yang sebaik-baiknya”  Tegas mantan Ketua Pengadilan PTUN Jakarta ini.

Tentunya, dalam menjaga kehormatan Hakim, lanjut Supandi, Hakim harus bisa dan  mampu melakukan itu dengan senantiasa berpedoman pada Pedoman Prilaku Hakim. Menurut Pria kelahiran Medan ini, Pedoman Prilaku Hakim bukan sekedar kewajiban bagi setiap Hakim, tapi sebagai pagar atau koridor bagi Hakim dalam menjalanai kehidupannya sebagai Hakim. ”Dalam konteks ini, tanpa adanya sanksi pun, apabila Hakim melakukan sebuah kesalahan, maka Hakim akan terimbas oleh persepsi Publik sebagai sesuatu yang negatif ” ujara Kandidat Hakim Agung ini.  Menurut Supandi,  Hakim merupakan predikat terhormat, sehingga setiap penampilan dan kepribadian harus memiliki nilai yang mampu menjaga kehormatan itu. Sang Hakim harus mampu menghargai diri sendiri dengan penampilan yang rapi dan perpect; sebab ketika persepsi publik yang buruk , maka hal tersebut sulit direhabilitasi.

Oleh karena itu, ketika menerima dan akan memeriksa sebuah perkara, maka Hakim yang baik adalah mengawali semua itu dengan berdoa, agar senantiasa mendapat petunjuk daru Tuhan Yang Maha Kuasa. Selanjutnya,  mencermati dan berusaha menemukan fakta hukum, menentukan pilihan nilai hukum yang akan diterapkan dan menyelesaikan dengan baik.

Dalam Penutup ceramahnya, salah satu Hakim Senior di Lingkungan Pengadilan Tata Usaha Negara ini mengingatkan bahwa , Ketika telah menjadi seorang  Hakim, maka jangan sampai terbetik dalam benak saudara bahwa anda sudah memiliki sebuah kekuasaan; jangan sekali-sekali menunjukkan arogansi atas nama kekuasaa. Dr. Supandi menegaskan bahwa, begitu melangkah sebagai Hakim, maka prilaku yang ugal-ugalan dan tidak terhormat dll , maka semua itu harus ditinggalkan. Sehingga untuk menjaga kewibawaan Hakim,  Maka seorang Hakim harus banyak membaca literatur-literatur yang terkait dengan masalah keadilan;. Bagi  Supandi, Hakim merupakan satu eksistensi  dan peran sosial yang tidak mampu digantikan oleh Ilmu pengetahuan dan tekhnologi.  Sebab Iptek tidak mampu menghadirkan nilai keadilan. Sehingga Hakim harus bersiap-siap dalam berkompetisi dengan peradaban yang penuh dengan kecanggihan tekhnologi dan informasi. (Irvan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: